01Rumus LTV dan cara membacanya
LTV dihitung dari dua angka pada periode yang Anda tentukan, yaitu nilai pesanan rata-rata dan jumlah pembelian per pelanggan. Tulis periodenya di samping angka, sebab LTV 6 bulan dan LTV 3 tahun tidak bisa dibandingkan.
- Nilai pesanan rata-rata adalah revenue dibagi jumlah pesanan. Pembahasannya ada di AOV.
- Jumlah pembelian per pelanggan adalah total pesanan dibagi jumlah pelanggan unik. Pelanggan yang hanya membeli sekali tetap dihitung.
- Margin dipakai untuk LTV dalam bentuk laba kotor. Tanpa margin, LTV adalah omzet.
Pada contoh di atas, LTV Rp 1.350.000 berarti satu pelanggan rata-rata membawa omzet sebesar itu selama 6 bulan. Bandingkan LTV hanya antar produk dengan pola beli mirip.
02Versi LTV yang sering dipakai
| Versi | Cara menghitung | Dipakai untuk |
|---|---|---|
| LTV omzet | Nilai pesanan rata-rata × jumlah pembelian per pelanggan. | Melihat besar omzet yang dibawa satu pelanggan. |
| LTV laba kotor | LTV omzet × margin kotor. | Menilai batas biaya mendapatkan pelanggan. |
| LTV historis | Total belanja nyata satu kelompok pelanggan dibagi jumlah pelanggannya. | Membandingkan kelompok dari bulan atau campaign berbeda. |
ROAS membandingkan revenue dengan biaya iklan pada periode yang sama. LTV menambahkan pembelian ulang sesudahnya, sehingga iklan yang tampak merugi pada pembelian pertama masih bisa layak bila pelanggannya kembali membeli.
03Di alur iklan ke WhatsApp
LTV baru terbentuk sesudah closing pertama, dan Dalekta tidak menghitungnya. Yang tercatat adalah nominal closing per lead, jadi jumlah pembelian ulang per pelanggan harus Anda ambil dari catatan penjualan sendiri, misalnya aplikasi kasir atau spreadsheet pesanan.
Closing dan Revenue per campaign bisa dibaca dari Campaign Report. Spend campaign Meta tersedia bila Meta Ads terhubung di Ad Connections dan akun iklannya dipilih. Biaya platform lain dan delivery adset/ad tetap dibaca terpisah. Contoh berikut memakai angka ilustrasi.
- Calon pelanggan mengklik tombol WhatsApp di landing page yang memakai link rotator Dalekta. Pesan awalnya membawa kode seperti
[D-4HQ8N], yang dipakai Dalekta untuk mencocokkan chat dengan klik dan campaign asalnya. - Di Campaign Report, pilih rentang tanggal bulan Maret. Campaign Promo Perdana menunjukkan Closing 40 dan Revenue Rp 18.000.000, yaitu nominal closing yang tercatat di Dalekta. Anggap tiap closing adalah satu pelanggan berbeda.
- Di halaman Leads, filter Campaign dan status Closing, lalu klik Ekspor. File Excel-nya memuat kolom Phone dan Campaign Name untuk mencocokkan pelanggan dengan catatan penjualan sendiri. Leads menyaring tanggal menurut kapan lead dibuat, jadi jumlah barisnya bisa berbeda dari 40.
- Dari catatan penjualan, ambil semua pesanan dari 40 pelanggan itu sejak closing pertama sampai 6 bulan kemudian, termasuk pesanan pertama. Misalnya ada 120 pesanan dengan total Rp 54.000.000. Nilai pesanan rata-rata Rp 54.000.000 ÷ 120 = Rp 450.000, dan pembelian per pelanggan 120 ÷ 40 = 3.
- LTV omzet = Rp 450.000 × 3 = Rp 1.350.000. Pada margin kotor 40%, LTV laba kotor = Rp 540.000.
- Ambil biaya campaign itu untuk periode yang sama, dari kolom Spend di Campaign Report bila tersedia atau dari Ads Manager, misalnya Rp 6.000.000. Biaya per closing = Rp 6.000.000 ÷ 40 = Rp 150.000. Rp 540.000 ÷ Rp 150.000 = 3,6, artinya dalam 6 bulan tiap pelanggan dari campaign ini menghasilkan laba kotor 3,6 kali biaya mendapatkannya.
04Kesalahan yang sering terjadi
- Menghitung LTV dari pelanggan yang baru closing. Mereka belum sempat membeli lagi, jadi LTV-nya tampak sama dengan pembelian pertama.
- Membandingkan LTV omzet dengan biaya iklan. Bila margin tipis, laba kotor jauh lebih kecil dari omzet, jadi pakai LTV laba kotor.
- Membagi total revenue dengan jumlah lead atau chat. Penyebut LTV adalah pelanggan unik yang membeli.
- Menganggap Revenue di Campaign Report sebagai LTV. Angka itu jumlah nominal closing dari lead yang closing pada rentang tanggal yang dipilih. LTV memerlukan pembelian ulang dari catatan penjualan Anda.
05Pertanyaan umum
Apa kepanjangan LTV?
LTV adalah singkatan dari Lifetime Value, juga ditulis Customer Lifetime Value atau CLV. Artinya total nilai yang dihasilkan satu pelanggan selama ia membeli dari bisnis Anda. Nilainya bisa berupa omzet atau laba kotor, dan perlu periode yang jelas, misalnya 6 bulan atau 1 tahun.
Bagaimana rumus LTV yang paling sederhana?
Nilai pesanan rata-rata dikali jumlah pembelian per pelanggan. Untuk versi laba, kalikan lagi dengan margin. Sebagai ilustrasi, pesanan rata-rata Rp 300.000 dengan 4 pembelian per pelanggan menghasilkan LTV Rp 1.200.000. Dengan margin 30%, LTV laba kotornya Rp 360.000.
Apakah LTV muncul di laporan Dalekta?
Tidak. Dalekta tidak menghitung LTV. Yang tercatat adalah nominal closing per lead, dan Campaign Report menampilkan Closing serta Revenue per campaign. Pembelian ulang dan LTV Anda hitung sendiri dari catatan penjualan bisnis, lalu dibandingkan dengan biaya iklan per campaign, dari Spend di Campaign Report bila Meta Ads terhubung di Ad Connections dan akun iklannya dipilih, atau dari Ads Manager.
Apa bedanya LTV dan AOV?
AOV adalah nilai rata-rata satu pesanan, sedangkan LTV adalah nilai satu pelanggan dari waktu ke waktu. Pelanggan yang membeli empat kali dengan pesanan Rp 200.000 punya AOV Rp 200.000 dan LTV omzet Rp 800.000.
